25 MARET 2026

|

10:48 WIB

POLITEKNIK PU BERENCANA MENGHADIRKAN SMART CAMPUS

26 Agustus 2020  /   BPSDM Kementerian PU       655

Bandung, 25 Agustus 2020 – Pembangunan di bidang apapun pasti membutuhkan dukungan SDM yang cukup, terampil dan kompeten di bidangnya. Untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di bidang konstruksi dan infrastruktur, Kementerian PUPR telah mendirikan Politeknik Pekerjaan Umum (PU) pada 2018 lalu. Pendirian Politeknik Pekerjaan Umum dilakukan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja konstruksi yang terampil di era industri 4.0. 


Dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi yang memerlukan banyak praktek lapangan tentu memerlukan peralatan canggih dan laboratorium berikut dengan perangkat lunak pendukungnya. Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, pada 24 -25 Agustus 2020 di Kampus Politeknik PU digelar workshop yang bertema, ‘Kebutuhan Alat Laboratorium dan Perangkat Lunak Politeknik PU’ dengan narasumber yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Kementerian PUPR.


Sebagai perguruan tinggi vokasi yang mengutamakan praktek dalam kurikulumnya, keunggulan Politeknik PU adalah pada On Job Training, workshop dan laboratorium. 


Dengan kata lain, perlu dukungan sarana dan prasarana yang lengkap dan mutakhir. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam sambutan pengarahannya Sekretaris BPSDM Herman Suroyo menyatakan, ”Menghadapi kondisi yang hyper-competitive, Politeknik Pekerjaan Umum sedang dalam usahanya membentuk smart campus untuk menciptakan lulusan yang berkualitas.” (24/8) Dengan demikian jelaslah kalau Politeknik PU diarahkan untuk membentuk smart campus.


Diskusi di workshop pun soal smart campus menjadi perbincangan utama pada hari pertama. Arry Akhmad dari Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi ITB menyampaikan, ”Dalam membentuk smart campus, harus dimulai dari pembuatan unit kerja yang dapat menangani dan menjaga konsep integrasi dan inovasi atau dalam banyak organisasi disebut unit enterprise architecture. Politeknik PU harus mempertimbangkan implementasi Cloud atau On-Premise, baik dari sisi layanan maupun biaya.” (24/8)


Smart campus untuk perguruan tinggi vokasi tentu perlu juga dukungan peralatan memadai untuk laboratoriumnya. Peralatan laboratorium yang dapat menunjang praktik para mahasisma. Misalnya untuk bidang geoteknik; Harus memiliki alat laboratorium agregat, alat laboratorium aspal, marshall test set, dan lain-lain. Semua itu diperlukan agar persyaratan dasar dalam perancangan geoteknik yakni strength dan service ability bisa terpenuhi.  


Kehadiran peralatan dan penggunaan perangkat lunak bukan berarti sudah tercapai pembentukkan smart campus yang ideal, ada hal lain yang perlu juga dipenuhi. “Smart campus bukan menambah perangkat atau aplikasi tetapi mengubah mindset atau perubahan budaya dalam lingkungan kampus itu sendiri,” demikian disampaikan Suhono Harso, Ahli Teknologi Informasi ITB dalam paparannya.


Sementara pada hari kedua workshop materi yang diberikan berkaitan dengan teknis bidang k e-PUan. Diawali dengan dengan paparan singkat dari Politeknik Pekerjaan Umum lalu dilanjutkan berdiskusi dengan narasumber Nur Fizili Kifli dari Direktorat Bina Teknik SDA, lalu dengan Sugeng Paryanto dari Direktorat Bina Teknik Cipta Karya, dan Haliena Armela dari Direktorat Bina Teknik Bina Marga. Acara workshop ditutup dengan kunjungan lapangan ke tiga direktorat tersebut, yang diikuti oleh dosen Politeknik Pekerjaan Umum. (Saras PPU)