Klop Talkshow Episode 78 Soroti Darurat Sampah: Saatnya Mengelola Dengan Bijak
Bandung, 21 Agustus 2026 – Persoalan sampah terutama di kawasan Bandung Raya tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan kebersihan, melainkan sebagai persoalan perkotaan yang bersifat holistik, lintas wilayah, lintas sektor dan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan serta kesehatan masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam KLOP Talkshow Episode 78 dengan topik “Darurat Sampah: Saatnya Mengelola dengan Bijak”.
Talkshow menghadirkan Dr. Muhammad Reva, S.T., M.Sc., Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Jawa Barat, yang membahas kondisi persampahan terkini sekaligus arah kebijakan dan strategi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Reva, S.T., M.Sc. selaku narasumber menekankan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pengelolaan sampah harus dilihat sebagai sebuah rantai layanan yang saling terhubung, mulai dari pengurangan dan pemilahan di sumber, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan hingga pemrosesan residu.
Bandung Raya menghadapi Persoalan Sampah yang Bersifat Metropolitan
Kompleksitas persoalan semakin terlihat karena Bandung Raya merupakan satu kesatuan kawasan metropolitan yang mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Sampah yang dihasilkan di satu wilayah dapat memberikan dampak terhadap wilayah lainnya sehingga penyelesaiannya tidak dapat dilakukan secara parsial berdasarkan batas administrasi.
Salah satu contoh nyata dapat terlihat dari TPPAS Sarimukti yang melayani beberapa wilayah Bandung Raya. Pada Februari 2025, pengiriman sampah dari empat daerah tersebut harus dibatasi sekitar 1.390 ton per hari, dari sebelumnya sekitar 1.750 ton per hari. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara timbulan sampah dengan kapasitas sistem pengelolaan yang tersedia.
“Persoalan sampah bukan sekadar kebersihan lokal, melainkan permasalahan perkotaan yang bersifat holistik dan lintas wilayah. Ketika kapasitas hilir di TPA terbatas, solusi utamanya bukan sekadar mencari lahan baru, melainkan mengubah seluruh ekosistem pengelolaan dari hulu ke hilir,” tegas Muhammad Reva.
Mengubah Paradigma: Sampah Bukan Lagi Sekadar untuk Dibuang
Salah satu pesan penting dalam KLOP Talkshow Episode 78 adalah perlunya perubahan paradigma pengelolaan sampah. Pola “kumpul, angkut, buang” perlu ditransformasi menjadi sistem yang mengutamakan pengurangan, pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, pengolahan, dan pemrosesan residu.
Arah kebijakan pengelolaan sampah tahun 2025-2029 menempatkan pengurangan dan pemilahan dari sumber sebagai salah satu strategi utama. Pemerintah juga mendorong agar tidak ada pembangunan TPA baru, sementara TPA yang ada diarahkan untuk menerima residu, yaitu sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang atau diolah. Pengolahan sampah didorong melalui fasilitas seperti TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu).
Dengan demikian, masyarakat tidak lagi hanya ditempatkan sebagai pihak yang menghasilkan sampah, tetapi menjadi bagian penting dari solusi melalui kebiasaan mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah.
Perubahan Dimulai dari Rumah, tetapi Sistem harus Mendukung
Dalam talkshow, perubahan perilaku masyarakat disebut menjadi salah satu kunci keberhasilan transformasi persampahan. Sampah yang telah tercampur sejak dari rumah akan lebih sulit dan mahal untuk diolah. Karena itu, pemilahan dari sumber perlu dilakukan secara konsisten.
Namun, perubahan perilaku tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Pemerintah juga harus menyediakan sistem yang mudah, jelas, konsisten, dan dapat dipercaya. Masyarakat yang telah memilah sampah harus mendapatkan kepastian bahwa sampah tersebut tidak kembali dicampur dalam proses pengangkutan.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui sistem berlapis, mulai dari pengurangan dan pemilahan di rumah, pengumpulan terpilah, pengolahan di TPS 3R atau TPST, hingga TPA yang hanya menerima residu.
Infrastruktur harus Memberikan Manfaat Nyata
Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Jawa Barat telah memberikan dukungan fisik dan nonfisik dalam pengelolaan sampah di Jawa Barat, termasuk kawasan Bandung Raya. Khusus Bandung Raya, dukungan yang telah diberikan mencakup optimalisasi TPA di Kabupaten Sumedang (TPA Cijeruk) TA 2022, 4 (empat) TPST di Kota Bandung, 2 (dua) TPST di Kota Cimahi, dan 1 (satu) TPST di Kabupaten Bandung, 70 TPS3R di empat kabupaten/kota. Nilai investasi fisiknya sekitar Rp206,3 miliar, dengan kapasitas desain total 519 ton per hari dan cakupan layanan sekitar 207.600 kepala keluarga.
Namun, pembangunan infrastruktur tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Infrastruktur harus didukung kesiapan pemerintah daerah, operator, pembiayaan operasional dan pemeliharaan, kompetensi SDM serta edukasi masyarakat.
Keberhasilan pengelolaan sampah perlu diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil dikurangi dan diolah serta seberapa jauh sampah yang dikirim ke TPPAS dapat ditekan, bukan sekadar dari jumlah infrastruktur yang dibangun.
Menuju Lingkungan yang Lebih Bersih dan Berkelanjutan
Melalui KLOP Talkshow Episode 78, Bapekom PU Wilayah IV Bandung turut membuka ruang pembelajaran dan diskusi mengenai persoalan persampahan yang semakin relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pengelolaan sampah yang baik pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga lingkungan tetap bersih. Lebih jauh, sistem persampahan yang terintegrasi akan berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan yang lestari, pemanfaatan sampah sebagai sumber daya, dan keberlanjutan layanan perkotaan. Arah tersebut sejalan dengan outcome yang ditetapkan dalam target pembangunan persampahan nasional.
Melalui topik “Darurat Sampah: Saatnya Mengelola dengan Bijak”, KLOP Talkshow Episode 78 mengajak seluruh pihak untuk melihat sampah bukan lagi sebagai persoalan yang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi sebagai tanggung jawab bersama yang harus dikelola sejak dari sumber hingga menjadi residu.
Pengelolaan sampah bukan juga sekadar membangun fasilitas tetapi juga tentang membangun kesadaran dan kebiasaan. Dari hulu kita mulai, dari kita sendiri, kita bergerak. Kurangi dari sumbernya, pilah sampahnya, olah semaksimal mungkin, dan kurangi residu yang berakhir di TPA. Mari bersama membangun lingkungan yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.