|
/ Berita / Tek Nologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah Wajib Disosialisasikan Ke Masyarakat

Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR) Wajib Disosialisasikan ke Masyarakat

Sabtu , 13 April 2019 76

Ilustrasi pemasangan Woven



Pekalongan (13/04) - Untuk mencegah tergerusnya garis pantai akibat abrasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian PUPR melalui Balai Uji Coba Sistem Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi adakan pelatihan pengembangan Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR) Berbahan Geotekstil yang bertujuan untuk menahan abrasi air laut dan membentuk pantai secara alami sehingga lebih ramah lingkungan. Pelatihan yang resmi ditutup pada tanggal 13 April 2019 dengan presentasi hasil On the Job Training yang dilakukan di Pantai Pesisir Utara Pulau Jawa, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.  

Kepala Pusdiklat Sumber Daya Air dan Konstruksi, Yudha Mediawan, mengemukakan abrasi pantai di Indonesia merupakan salah satu permasalahan utama dalam upaya perlindungan pesisir pantai. Fenomena ini dapat berdampak pada tergerusnya garis pantai yang dapat mengganggu permukiman, infrastruktur, serta fasilitas umum lainnya.

Yudha menambahkan,"PEGAR merupakan salah satu solusi terbaik dari sisi life cycle cost. Namun, ini perlu pemberdayaan masyarakat, misalnya mereka membentuk kelompok masyarakat untuk membantu pemerintah dalam sosialisasi ke penduduk setempat. Selain itu, untuk menghindari adanya aksi vandalism dari yang kontra akan teknik ini. Barangkali Wovennya terkena jangkar, kemudian sobek. Tentu sistem yang kami bangun akan sia-sia. Harus ada kerjasama dengan berbagai pihak terutama pemerintah daerah".

Abrasi pantai di Indonesia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Sedikitnya 40% dari 81 ribu km pantai di Indonesia, rusak akibat abrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter per tahun. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan.

Sejalan dengan hal tersebut, Dede M. Sulaiman selaku peneliti utama dalam Teknologi Geotube berbahan tekstil PEGAR mengatakan bahwa setelah di-ujicoba di Bali tepatnya di Pantai Pebuahan, Jembrana. Teknik PEGAR terbukti dapat melunakkan arus gelombang pantai. Teknik PEGAR memang bersifat sebagai pemecah gelombang pantai, dengan menyeimbangkan gelombang arusnya dan menjaga sedimentasi pantai.

Foto bersama saat penutupan pelatihan

Dede menyarankan demi menjaga durability atas pemasangan alat PEGAR, yakni Woven, Non Woven dan Komposit yang dipasang semasa OJT ada baiknya ditambahkan dengan batu armor sebagai penutup alatnya. Selain itu, payung hukum dalam proses pengelolaan Teknik PEGARnya tidak sebatas R3. Sebagai informasi, untuk Teknik PEGAR di daerah Demak, Jawa Tengah pun sudah bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Solusi atas permasalahan erosi dan abrasi pantai tersebut salah satunya dengan menerapkan teknologi pemecah gelombang ambang rendah (PEGAR) berbahan geotekstil. Teknologi yang dikembangkan Puslitbang SDA tersebut memiliki nilai ekonomis yang lebih murah dan terjangkau masyarakat pesisir, serta secara teknis lebih efektif dalam meredam energi gelombang laut. (Rz Datin)


Informasi Lebih Lanjut tentang Balai Uji Coba Sistem Diklat SDA dan Konstruksi

KLIK DISINI ...


KOMENTAR ()