|

Ilustrator Muda Asal Semarang yang Mendunia

Jumat , 19 January 2018 0 126

(Ki-ka) Aga dan para ilustrator muda dari berbagai negara


Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang ditekuni, itulah yang dirasakan oleh Aga Rahmadani, Perempuan asli Grobokan, Semarang yang berusia 25 tahun ini mampu menjadi seorang illustrator muda bertaraf internasional, dan kini ia sedang berusaha mengembangkan usahanya di Cina. Sungguh suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia karena lagi-lagi ada putri Indonesia yang mampu bersaing di kancah Internasional.


"Dari umur 5 tahun ingin jadi seniman," cerita Aga saat ditanya apa cita-citanya sedari kecil. Lulusan Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini diketahui sejak umur 5 tahun memang gemar menggambar, dan sejak saat itu pula ia bertekad ingin menjadi seniman, rupanya cita-cita yang ia pegang teguh itu sungguh membuahkan hasil meski keluarga pada awalnya tidak memberikan dukungan penuh terhadap Aga. Tahun 2012, Aga mencoba memajang hasil karya ilustrasinya di Facebook dan membuat akun LinkedIn kemudian nekat masuk ke grup ilustrator profesional. 


"Saya masuk grup ilustrator profesional, padahal waktu itu belum profesional. Terus saya dihubungi editor yang sedang hunting ilustrator," tutur perempuan yang ulang tahun pada 21 Maret 1992 itu. Order pertama secara profesional justru datang dari Malaysia yaitu penerbit buku Karangkraft. Aga diminta membuat ilustrasi untuk sebuah buku. Dari sana karyanya mulai dikenal dan banyak editor yang menghubunginya, klien yang datang pun kebanyakan dari luar negeri. Beberapa dari Negara Amerika, Eropa, Inggris, India, Jepang, Australia. "Karangkraft share hasil karya saya kemudian ada editor menghubungi," ujar warga asli Semarang itu. Karya yang diminta pun macam-macam. Dari ilustrasi Buku, Periosik, Desain Packaging, Majalah, Tekstil, Sarung Bantal, dan lain sebagainya. 


Beberapa karya Aga Rahmadani


Ketika ia praktek kerja lapangan ia juga pernah menggantikan designer surat kabar yang sedang sakit selama 2 bulan dan karyanya masih dipakai sampai sekarang. Pengalamannya bertambah ketika ia diminta mendesain semua hal tentang hari jadi Bondowoso mulai dari iklan hingga backdrop.

“Portofolio saya semakin banyak, saya share terus karya saya. Bermunculanlah penulis datang minta dibuatkan ilustrasi,” Cerita Aga.

Karena sudah tidak bisa meng-handle sendiri, akhirnya ia membuka Usaha Startup Gagestudio, ia merekrut 7 karyawan, asiknya pekerjaan tersebut bisa dikerjakan dimana saja asal hasilnya sesuai dengan permintaan klien dan tepat waktu. Dalam sehari, Gagestsudio dapat menghasilkan 5 sampai 10 karya ilustrasi dengan omset minimal Rp 20 juta per-bulan. Saat ini, Aga berada di Cina untuk mengikuti program Au Pair. Ia dan Karyawannya pun hanya berkoordinasi lewat online, bahkan Aga juga tidak bisa hadir dalam wisudanya di Unnes pada hari 26 Oktober 2017 lalu. Hanya videonya saja yang ditampilkan dalam layar besar di ruang auditorium Unnes. Keberhasilan Aga membuat Rektor Unnes, Fathur Rokhman kagum. Menurutnya banyak talenta anak-anak Indonesia yang harus didukung agar berhasil.  


Rektor Unnes mengagumi karya Aga (dok.pri)


"Jadi kebanggaan bagi Unnes, apa yang dipelajari di Unnes dibawa ke negara lain dan mendapatkan apresiasi. Mudah-mudahan jadi inspirasi mahasiswa lain," kata Rektor. Karena kesibukan dan prestasinya tersebut, Unnes mengabulkan permohonannya untuk diwisuda secara in absentia. Ilustrasi yang dibuat Aga kebanyakan bergaya feminis yang halus sehingga banyak diminati untuk ilustrasi buku. Aga mengatakan ia mampu mengerjakan dua jenis ilustrasi yaitu manual menggunakan cat air maupun digital painting. 

"Jangan pantang menyerah dan putus asa, maksimalkan potensi diri, be yourself," tutup Aga.



(Rhm)


Sumber:

Detik.com

Detiktribun.com

Detiknews.com