|

Menerapkan ‘Anger Management’ di Kantor

Rabu , 26 Juli 2017 0 236

Kita pasti pernah mendapati kejadian tidak enak di pagi hari saat di kantor. Semisal, si A tiba-tiba datang sudah menggerutu karena tidak dapat parkir atau kena macet parah, ban kempes dll, jadi semuanya kena omel termasuk Anda yang notabene tidak tahu apa-apa kena ‘semprot’ juga. Siapa sih yang tidak marah jika seperti itu kejadiannya. Namun, apa lantas kita selalu balas omelannya dengan makian juga? Tentunya akan memperburuk keadaan. Nah, lalu bagaimana baiknya jika hal itu terjadi bahkan berulang? Kami ingin sedikit bercerita tentang pentingnya Anger Management dalam lingkungan kerja maupun sehari-hari.

Marah, itu sifat dasar manusia. Kita semua pasti pernah marah. Namun, cara mengeskpresikan kemarahan bagi tiap orang pasti berbeda-beda. Dan marah adalah suatu emosi penting, yang memberitahu kita ketika ada sesuatu yang salah. Tetapi jika kita sudah tidak bisa lagi mengelolanya, berarti kita-lah yang bermasalah. Cara mengendalikan emosi yang paling tepat adalah dengan berlatih secara teratur dan konsisten, sehingga kita bisa mengendalikan emosi berlebih setiap kali kita merasakannya.



Untuk mengurangi luapan atau tekanan emosi ketika menghadapi suatu masalah, biasanya seseorang akan melakukan perilaku tertentu, misalnya mengeluh, menangis, atau marah. Meluapkan kemarahan memang baik jika dilihat dari buruknya pengaruh tekanan psikis ketika memendam emosi. Ketika marah, terjadi perubahan psikis dan biologis, seperti detak jantung dan tekanan darah yang naik karena peningkatan hormon adrenalin dan energi. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa kita harus repot-repot mengendalikan emosi, terutama amarah? Karena emosi yang berlebihan, terutama amarah bersifat destruktif (merugikan) antara lain dapat merusak kesehatan, menghancurkan hubungan dengan pasangan, membahayakan pekerjaan, dan dapat pula membuat kita stress, bahkan berujung depresi.

Depresi yang tidak teratasi dengan benar dan cepat dapat menyebabkan timbulnya keinginan ‘Suicide’ seperti yang belakangan ini diberitakan tentang kematian vokalis Band Linkin Park, Chester Bennington. Namun, kami tidak akan membahas hal tersebut lebih lanjut. Kami hanya ingin menganalogikan bahwa dampak amarah tak terkendali dengan kejadian yang nyata. Bagi karyawan kantor penuh waktu, tentunya terkadang rasa amarah terhadap pekerjaan, rekan kerja bahkan atasan kerap kali muncul. Bayangkan jika kita dengan mudahnya mengumbar amarah. Tentu akan menjadi bom waktu bagi kita sendiri.



Menurut Jerry Deffenbacher PhD, seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam Anger Management menyebutkan bahwa ada orang - orang tertentu yang terlahir mudah marah dibandingkan dengan orang rata - rata lainnya. Hal ini terjadi karena pengaruh genetik (keturunan). Faktor lainnya yang dapat menjadi latar belakang pemicu timbulnya sifat pemarah adalah faktor sosiokultural (budaya) yang didapat dalam proses belajar. Orang yang dibesarkan dalam lingkungan yang pemarah, belajar bahwa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, atau menghindari apa yang tidak diinginkannya adalah dengan cara marah.

Nah, di bawah ini ada beberapa tips yang bisa dicoba dalam mengelola amarah selama berada di kantor:



1. Atur Pola Napas

Sebelum menyesal atas reaksi kita terhadap sesuatu yang kita anggap salah. Ada baiknya diam sejenak, kemudian tarik napas tahan 5 detik. Agar aliran oksigen ke otak lebih lancar dan pikiran kita pun terbuka dalam menanggapi suatu masalah.

2. Think Before Speak

Yup! Ini penting. Mengapa? Karena seperti pepatah bilang lidah itu tidak bertulang, dan lebih tajam dari sebilah pisau. Saat kita emosi, pikiran kita otomatis sedikit kacau. Jadi, sebelum menyesal ada baiknya berpikir sejenak sebelum mengatakannya dalam keadaan emosi. Khususnya di lingkungan kerja, barangkali orang yang jadi objek amarah kita nantinya jadi orang yang butuhkan untuk kepentingan kantor. Dan ini akan mempersulit kita ke depannya.


3. Hindari yang membuat Anda merasa tidak nyaman

Misal, batasi komunikasi dengan rekan kerja yang menurut Anda dapat mendistraksi mood dalam bekerja. Tidak perlu menjadi cuek atau arogan. Beri senyum sewajarnya jika tidak sengaja berpapasan, minimalisir kontak dengan orang tersebut dengan fokus pada pekerjaan Anda saja. Hadapi dengan professional, karena menghindari masalah tidak akan menyelesaikannya.

4. Ubah cara pandang

Hal ini tidak akan terjadi secara instan, butuh proses. Namun bukan tidak mungkin dapat melakukannya. Perbanyak bergaul dengan orang yang dapat memberi aura positif, saling berbagi pengalaman. Dengan begitu, tanpa disadari kita memperoleh banyak perspektif terhadap suatu peristiwa. Bisa jadi pembelajaran untuk diri sendiri. Menjadi open minded sangatlah membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mudah terprovokasi.